Ospek: Praktik Kebodohan yang Dilestarikan

 


Assalamu'alaikum!  

Mari kita mulai dengan realita yang setiap tahun selalu datang tanpa diundang tapi selalu dinanti: tahun ajaran baru. Spanduk ucapan selamat datang terpasang, kata-kata sambutan “selamat datang generasi emas harapan bangsa” dan semacamnya bertebaran. Kampus mendadak terasa seperti gerbang menuju masa depan cerah. Mahasiswa baru pun datang dengan penuh harapan—niat belajar, niat berkembang, niat jadi pintar. 

Lalu… ospek pun dimulai.

Katanya sih, OSPEK itu singkatan dari orientasi studi dan pengenalan kampus. Harusnya ya, dikenalin dunia akademik, cara belajar yang beda dari sekolah, gimana berpikir kritis, gimana bikin karya ilmiah. Tapi entah kenapa, di lapangan yang terjadi malah perpeloncoan yang lebih mirip audisi “Indonesia Mencari Kesabaran” padahal kurang sabar apalagi jadi WNI.

Tiba-tiba kamu disuruh bawa minuman warna hijau tosca (yang bahkan kimia pun bingung itu zat apa), rambut dikuncir lima kayak antena BTS, jalan jongkok keliling lapangan sambil nyanyi lagu yang kamu sendiri gak ngerti maknanya. Dan semuanya harus dilakukan dengan serius. Karena kalau ketawa? Wah, bisa jadi sasaran amukan senior. Jadi kamu lagi melakukan hal absurd, tapi ekspresinya harus kayak lagi sidang skripsi. Ini bukan ospek, tapi latihan jadi orang gila. hehe

Dan kalau kamu pikir ini cuma sehari dua hari, maaf ya… ini adalah program berkelanjutan. Ada ospek kampus, lanjut ospek fakultas, ditutup dengan ospek jurusan. Bonus season: himpunan mahasiswa. Durasi? Bisa mingguan sampai bulanan bahkan tahunan. Netflix aja bilang, “Gue mundur, bang.”

Kegiatannya? Dari pagi sampai malam. Dimarahi, disuruh, dihukum, diulang lagi. Tugasnya? Kreatif sih, menurut mereka… tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan akademik. Tidak ada baca jurnal, tidak ada diskusi ilmiah, tidak ada menulis esai. Seolah masa depan bangsa sangat ditentukan oleh arogansi semata.

Lalu muncullah karakter paling ikonik: senior.
Ini menarik. Senior yang paling galak biasanya bukan yang paling rajin kuliah. Kehadirannya di kelas lebih langka dari parkiran kosong di hari Senin. Ada yang kuliahnya udah masuk era “pre-historic edition”, belum lulus-lulus sampai hampir jadi cagar budaya. Tapi begitu ospek dimulai, mereka berubah jadi sosok disiplin, tegas, dan penuh wibawa. IPK mungkin “nasakom”, tapi kalau soal bentakin junior? wah, macam profesor kehormatan. Apalagi tagline "senior selalu benar" dah macam paling hebat aja mereka.
Kenapa bisa begitu? Karena ini panggung mereka. Satu-satunya tempat di mana mereka punya kontrol penuh, bisa teriak-teriak sepuasnya macam orang kesurupan. Atau kalau mau jujur: ini balas dendam yang dilegalkan. Dulu mereka disiksa, sekarang giliran mereka yang menyiksa.

Dan kalau kamu mulai bertanya, “Ini ngapain sih?” tenang. Sistem sudah menyediakan tiga jurus pamungkas:
“Ini tradisi.”
“Dulu saya juga begitu.”
“Kalau gak ikut, nanti susah di kemudian hari.”
Kalimat terakhir ini paling sakti. Ancaman yang gak jelas bentuknya, tapi cukup bikin orang nurut. Kayak hantu gak kelihatan, tapi dipercaya.



Saya dulu tidak ikut ospek dengan penuh kesadaran, karena menolak dibodoh-bodohi macam orang gila. Bahkan saya nggak kenal sama senior sepanjang saya kuliah. Tapi, hidup saya tetap baik-baik saja. Kuliah aman, lulus lancar, ijazah asli, otak tetap waras tanpa bonus trauma. Sebuah plot twist yang tidak diajarkan di ospek.

Masalahnya, ini bukan cuma soal “iseng senior”. Ini sudah masuk wilayah yang lebih serius: perploncoan yang dibungkus dengan kata-kata manis seperti “melatih mental”, “pembentukan karakter”, atau “tradisi turun-temurun”. Padahal isinya: tugas tidak bermutu, dipermalukan di depan umum, ancaman, bahkan kekerasan yang dinormalisasi. Buang-buang waktu sia-sia. 
Dampaknya bukan bercanda dan bukan seru-seruan belaka. Ada yang stres, ada yang trauma, bahkan setiap tahun selalu ada kabar nyawa melayang. Kuliah belum tapi udah metong duluan digebuki senior. Tapi sistem seperti ini tetap jalan hingga kini walau namanya udah diubah-ubah. Karena ya itu tadi: “sudah tradisi”.
Ironisnya, semua ini terjadi di kampus. Tempat yang seharusnya ngajarin berpikir kritis, tapi malah jadi tempat pertama belajar untuk tidak berpikir waras.

Baca juga: Etika Menggunakan Toilet Umum

Harusnya, ospek itu jadi jembatan. Dari siswa ke mahasiswa. Dari belajar untuk mendapatkan nilai ke belajar untuk memahami dan menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah. Dari hafalan ke analisis. Dari ikut-ikutan ke berpikir berbasis data dan fakta. Pokoknya mengenalkan bahwa jadi mahasiswa itu harus banyak membaca dan menulis.
Bayangin kalau ospek full diisi dengan kegiatan edukasi:
– belajar cari jurnal ilmiah yang kredibel
– diskusi isu aktual pakai data, bukan asumsi
– latihan menulis paper, artikel, atau resensi buku
– bikin mini riset sederhana
– dikenalkan etika ilmiah dan cara debat sehat

Capek? Iya. Tapi capeknya beda kelas.
Yang satu capek fisik & mental tapi gak jelas manfaatnya.
Yang satu lagi capek otak… tapi pulang-pulang jadi lebih pintar.

Mendidik itu bukan membuat orang tunduk. Tapi membuat manusia tumbuh dengan cara memanusiakannya. Membimbing itu amanah, bukan ajang balas dendam.

Kalau mau serius membangun generasi intelektual, libatkan dosen dan senior yang memang berprestasi. Yang bisa ngajarin, bukan cuma nyuruh doang. Yang bisa memotivasi, bukan cuma mengintimidasi.
Karena pada akhirnya, tujuan kuliah itu menghasilkan lulusan yang bisa berpikir kritis, menulis karya ilmiah yang berkualitas, dan bermanfaat bagi banyak orang. Syukur-syukur bisa merubah nasib negara yang udah mau ambruk ini.

Jadi mungkin pertanyaannya adalah: “Kenapa kita masih mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak mendidik?”
Mungkin sekarang sudah banyak kampus yang mulai berubah. Tapi masih banyak yang tetap melanjutkan praktek perpeloncoan berbalut ospek atau apapun namanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Gimana dengan pengalaman ospek kamu, guys? Masih primitif kah? atau sudah edukatif?

0 komentar

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,